Kami mempunyai permainan sportbook, casino, Togel pasaran Singapore, dan sabung ayam

kami lotus55.net mempunyai banyak promosi yang sangat menarik, ayo menang bersama kami sekarang juga, hubungi CS kami untuk informasi lebih lanjut

Daftar Dan Nikmati bonus yang sangat menarik dari kami. Hanya di Lotus55.net

Proses Deposit Dan Withdraw Hanya 3 menit, menang berapa pun pasti akan di bayar. Hanya ada di Lotus55.net

BONUS ROLLINGAN 0.25% UNTUK SPORTBOOK DAN 0.8% UNTUK LIVE CASINO YANG OTOMATIS MASUK KEDALAM ID BAPAK

kami memberikan bonus rollingan kepada member 0.8% untuk live casino. Ayo bergabung sekarang juga hanya di www.lotus55.net

Link Alternatif Kami | lotus55.net|lotus55.com|lotus5vip.com|lotus55vip.com

kami mempunyai banyak promo yang menarik yang sedang menunggu anda. Ayo Hubungi kami sekarang juga di www.lotus55.net !!

nontongo55.com

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Jumat, Juni 02, 2017

Movie Review - Review Film Morgan (2016)

Lotus55 - Film Morgan akan menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Morgan, Ia merupakan anak seperti biasanya karena memiliki kemampuan yang tidak dimiliki anak yang lain. Dia lahir dari hasil eksperimen ilmuwan untuk melahirkan anak buatan.

Para ilmuwan yang berada disekeliling Morgan menyebut dirinya sebagai anak spesial. Satu bulan setelah dilahirkan Morgan sudah mampu berjalan dan berbicaa. Pada usia 6 tahun Morgan sudah mampu mempertahankan dirinya sendiri.

Namun dibalik itu semua Morgan tetaplah anak yang ingin memiliki hidup seperti anak-anak pada umumnya. Morgan dapat meluapkan rasa amarah dan senang seperti yang lainnya, dia belajar dan membuat beberapa kesalahan yang masih dapat dimaklumi oleh para ilmuwan.

Agen Bola



Setelah sekian lama beberapa kejadian terjadi yang menujukkan tanda-tanda yang tidak biasa pada dirinya. Pelanggaran yang semula disadari karena seiring proses belajarnya mulai terasa aneh. Mau tidak mau para Ilmuwan mulai melakukan penelitian dan memerintahkan pengawasan kepada Morgan dan memutuskan kelanjutan proyek anak sinstetis.

Film Morgan merupakan sebuah film bergenre Thriller-Horror terbaru Hollywood. Film ini merupakan arahan sang sutradara Luke Scott yang juga berperan menulis naskahnya bersama  Seth Owen.

Film Morgan ini akan dibintangi oleh Anya Taylor-Joy, Rose Leslie, Jennifer Jason Leigh dan Paul Giamatti. Scott Free Productions akan bertindak sebagai rumah produksi film ini dan rencananya akan tayang pasa 02 September 2016 (USA).

Untuk Menonton Film Secara online. Klik Disini >> !! Morgan

Selasa, Mei 30, 2017

Agen Bola - Review Warcraft

Agen Bola - Review Warcraft

Akhirnya, kesampaian juga ngecek film yang udah gue tunggu-tunggu sejak tahun lalu langsung di bioskop. Walau gue nggak cukup beruntung dapetin pengalaman kualitas suara Dolby Atmos (studionya masih dikuasain X-MEN: APOCALYPSE (2016)), it's okay! Yang penting gue bisa ngecek film ini, dan kebetulan juga tadi di studio lumayan sepi yang nonton. Mungkin karena gue masuk di jam penayangan paling awal, yaitu jam 12:00 WIB, sedangkan para pengantre promo *-Cash panjang banget kayak uler. Terus gimana nih pendapat gue tentang film ini? Yuk baca review film WARCRAFT: THE BEGINNING (2016) ala gue berikut ini.

Agen Bola


WARCRAFT: THE BEGINNING (2016), kalo belom tahu, diangkat dari sebuah game MMORPG produksi Blizzard berjudul World of Warcraft. Walau World of Warcraft merupakan game yang sukses, kebanyakan gamer lebih mengenal dunia ini lewat game DOTA. So, bisa dibilang masih cukup banyak yang nggak ngeh dengan lore (kisah utama) dari World of Warcraft-nya sendiri. Termasuk gue sih. Gue juga samar-samar sama kisah utama di game-nya. Well, that's not really a problem, coz, yang bisa gue katakan adalah, kalian bakal lebih bisa menikmati film ini justru kalo kalian bukan penghapal isi cerita Warcraft sampai mendetail ke akar-akarnya, karena gue pastiin di sini banyak hal yang berbeda. Jadi, kalo kalian nonton ini sambil mengharapkan kisah versi game diadaptasi sepenuhnya ke dalam film, coba hilangkan harapan tersebut, walau sebetulnya agak menjanjikan karena story writer untuk film ini juga merupakan penulis cerita versi game-nya. Mungkin para gamer bisa lebih ngebedah perbedaan cerita di pada masing-masing format? Berhubung gue bukan gamer sejati, so, gue bakal meniilai film ini dengan lebih objektif.

Kisah utamanya berada pada sudut pandang bangsa Orc yang bernama Horde. Dipimpin oleh seorang Orc penyihir bernama Gul'dan (Daniel Wu), berkemampuan sihir terlarang yang disebut Fel. Sihir yang membutuhkan kehidupan sebagai bahan bakar kekuatannya. Digambarkan bangsa Orc sudah kehilangan tempat tinggal di dunianya sendiri, sehingga dengan sihir Fel, Gul'dan membuka portal menuju Azeroth yang damai, berusaha menghabisi makhluk-makhluk yang hidup di sana dan menjadikannya tempat tinggal mereka. Berbagai lokasi mereka serang hingga akhirnya berita tersebut sampai kepada seorang ksatria Azeroth bernama Anduin Lothar (Travis Fimmel, lewat seorang mantan murid calon Guardian, Khadgar (Ben Schnetzer). Lothar menghadap King Llane Wrynn (Dominic Cooper) agar penghuni Azeroth bersiaga menghadapi kemungkinan serangan dari makhluk yang tidak diketahui tersebut. King Llane mengutus Lothar untuk memberi tahu hal tersebut pada Guardian bernama Medivh (Ben Foster), dan menyelidiki area bekas serangan makhluk tersebut. Dari sana, mereka berhasil menangkap Garona (Paula Patton), makhluk setengah-Orc yang sebelumnya oleh bangsa Orc sendiri dianggap sebagai kutukan.



Di saat yang sama, salah satu Orc yang merupakan kepala suku kecil Frostwolf, Durotan (Toby Kebbell) merasakan kejanggalan dengan apa yang dilakukan Gul'dan. Dia berusaha mengajak sahabatnya, Orgrim Doomhammer membantunya melawan Gul'dan. Durotan yang menyaksikan sendiri kemampuan para manusia Azeroth berpikir bahwa mungkin saja mereka dapat membantunya mengalahkan Gul'dan dan memperbaiki tatanan kehidupan para Orc yang dirasakan telah berubah. Kisah pun berkembang dengan kelompok Horde yang terpecah dan saling bertarung, dengan pihak Azeroth yang berada di tengah-tengahnya berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin penghuni Azeroth yang ditangkap Horde. Gimana kelanjutan kisahnya? Kalian bisa tonton sendiri biar greget!

Penasaran Dengan keseruan Film Tersebut? Langsung saja nonton di sini > Warcraft 2016

Senin, Mei 29, 2017

Movie Review - The 5th Wave

Lotus55 - Film ini ternyata tidaklah seperti yang saya (atau anda) bayangkan sebelumnya. Saat melihat poster dan premis mengenai invasi alien, anda pasti berekspektasi filmnya akan bergenre thriller atau aksi, namun tidak demikian dengan The 5th Wave. Baru di sepertiga film, saya menyadari bahwa ia adalah adaptasi novel young-adult (quick googling memberitahu saya bahwa film ini merupakan adaptasi novel pertama dari trilogi yang ditulis oleh Rick Yancey) dan oleh karena itu, maka harus ada romance di antara protagonisnya. Ketika nasib umat manusia berada di tangan saya dkk, ke-geer-an dalam skema cinta segitiga adalah hal terakhir yang saya pikirkan.


Melihat dari konsepnya saja, kita boleh berasumsi The 5th Wave akan menjadi film yang lebih baik. Alien menginvasi bumi dalam 5 gelombang. Bagaimana manusia bisa tahu hal ini? Secara singkat, karena mereka memberitahukannya. Kenapa mereka menyerang? Alasannya yang diungkap di akhir, ternyata lebih sederhana dari yang kita kira. Film ini merupakan film invasi alien standar yang mungkin hanya menarik bagi anak baru gede.

Serangan dimulai dengan matinya seluruh peralatan elektronik akibat sinyal elektromagnetik yang dipancarkan oleh kapal alien. Gelombang kedua adalah bencana alam, sedangkan gelombang ketiga adalah wabah mematikan yang disebarkan burung. Ketiga gelombang ini dinarasikan oleh protagonis kita, Cassie (Chloe Grace Moretz) secara singkat melalui efek visual yang lumayan. Cassie harus bertahan hidup sendirian setelah terpisah dari ayah dan adiknya, Sam (Zachary Arthur) dikarenakan gelombang keempat — alien menempel pada tubuh manusia sebagai parasit, namun tak terlihat secara kasat mata — telah terjadi. 

Bagian yang terdengar menarik di atas tadi, hanya ada di sepertiga awal film, karena setelahnya kita akan disajikan dengan subplot romansa saat Cassie bertemu dengan Evan Walker (Alex Roe), pria misterius yang menyelamatkan dan membawanya pulang. Jika yang menyelamatkan anda adalah pria tampan yang punya otot perut sempurna dan rayuan super super klise, sebagai anak gadis SMA yang rapuh, tentu tak logis jika anda mencurigainya. Well, tanpa kehadiran orangtua, anda bisa bayangkan kemungkinan yang akan terjadi. Oh, lupakan dulu soal niat menyelamatkan Sam, anda punya "urusan" yang lebih urgen disini. 

Judul filmnya sendiri tidaklah bohong. Premis utamanya adalah akhir gelombang keempat yang berujung pada dimulainya gelombang kelima. Saya tak bisa mengungkap gelombang kelima ini karena berujung pada plot twist (yang sebenarnya tak begitu mengejutkan) yang melibatkan plot kedua mengenai tentara anak-anak yang dipimpin oleh Ben Parish alias Zombie (Nick Robinson) dan Ringer (Maika Monroe). Sutradara J Blakeson punya kesempatan untuk membangun suspens saat mereka tak bisa mengenali yang mana yang manusia tulen, namun konsep ini hanya berakhir menjadi sebatas perangkat untuk mengantarkan kita pada twist tadi. Naskah yang ditulis oleh Susannah Grant, Akiva Goldsman dan Jeff Pinkner juga tak begitu membantu, karena penempatan poin plotnya yang terkesan amburadul. 

Dalam film mengenai invasi alien, diperlukan protagonis wanita yang bisa berteriak, terkejut, berlarian dan Moretz memerankan Cassie persis seperti itu, walau sedikit mengherankan melihatnya masih tetap tampil penuh make-up di situasi "nyaris kiamat" yang tampak tak meyakinkan, seperti halnya dengan sekuens aksi dari filmnya sendiri. Di bagian cerita yang lain, tak ada karakter yang berkesan, termasuk Monroe yang bermain sebagai gadis tangguh yang antisosial. 

Untuk menontonnya langsung secara online bisa langsung klik di link Berikut > The 5th Wave

Selasa, Mei 16, 2017

Agen Bola - Review Film Seru Ant Man (2015)

Agen Bola - Review Film Seru Ant Man (2015)

Kecil-kecil cabe rawit”, mungkin Anda pernah mendengar istilah tersebut untuk menyebutkan seseorang yang memiliki kemampuan lebih dari yang dibayangkan walau dengan proporsi tubuh yang memang relatif kecil. Dan hal itu mungkin bisa diaplikasikan pada tokoh superhero dari Marvel yang satu ini.

Agen Bola



Scott Lang adalah seorang mantan pencuri yang akhirnya telah dibebaskan dari penjara. Dirinya hendak memperbaiki jalan hidupnya dengan mencari pekerjaan yang layak, hal itu dilakukan demi bisa membiayai tunjangan anak perempuannya yang masih kecil. Namun dengan catatan kriminal, sulit bagi Scott untuk bisa mencari pekerjaan bersih.

Berada di posisi terdesak Scott pun akhirnya kembali ke “jalan” lamanya untuk mencuri harta seorang mantan CEO besar, yang tak lain adalah Hank Pym. Dan harta yang dicuri oleh Scott tersebut adalah berupa kostum milik Hank yang membuatnya dijuluki sebagai “Ant-Man”, karena kostum tersebut mampu membuat pemakainya bisa mengecil seperti semut dan membesar kembali sesuka hatinya.

Alih-alih dibiarkan ke penjara, Hank menawarkan opsi untuk Scott, yaitu membantunya untuk mencuri sebuah kostum baru yang dikembangkan oleh Darren Cross di Pym Tech, sekaligus menghancurkan datanya untuk mencegah kehancuran dunia. Hank memberikan kesempatan kepada Scott untuk menjadi “Ant-Man” dan menjadi seorang “pahlawan” untuk melindungi dunia dari ancaman kostum baru yang bisa menimbulkan bahaya tersebut, Yellowjacket.


Untuk menontonnya secara online langsung saja klik di link berikut Ant-man

Minggu, Mei 14, 2017

Film Terpopuler - The Damned (2013)

Lotus55 - Saya memang dalam keadaan love and hate dengan film-film asal tari Flamenco ini. Pasalnya, mereka banyak mempunyai sutradara-sutradara bagus yang ke Hollywood, tetapi justru film-film mereka terkadang begitu flat, atau mungkin karena terlalu nyeni ya horornya? Ada sih beberapa yang bagus seperti The Unknown. Dan, karena seringnya film-yang-dijudul-ulang-terus-saya-kira-film-Hollywood, jadilah banyak "ranjau" yang harus diantisipasi, terutama kendala bahasa Spanyol yang banyak dipakai di sini.

Film Terpopuler


The Damned sendiri awalnya bagi saya mengingatkan pada film Evil Dead karya Sam Raimi. Premisnya hampir sama, mereka berada di suatu pemukiman terpencil di tengah hutan dan membuka sesuatu yang berbahaya. Saya mengapresiasi bagaimana awalnya film ini mulai membangun emosi dengan mencoba menjelaskan apa latar belakang dari keluarga Reynolds sendiri. Sesuatu yang sebenarnya tempelan sih, hanya untuk menambahkan alasan-alasan si setan ketika kerasukan dan mengganggu dengan rahasia yang dibeberkan. Tetapi, hal itu juga tak terlalu penting untuk disimak.

Film berjalan 87 menit dengan cukup baik, kendati terasa bertele-tele di beberapa bagian. Bagi saya, karena ini adalah film horor dengan kesan yang "dingin", saya ingin bagaimana film dapat memberikan ketegangan yang konstan agar suasana dalam film lebih mencekam dan hangat. Entah apakah bermaksud dingin, tetapi atmosfer yang tercipta dalam film terkesan on/off. Bukannya bagus, malah jadi bingung (karena kan biasanya hujan-hujan filmnya melo melo).

Dari segi cerita sendiri, saya merasa D'Ovidio sebagai penulis cerita mampu mengeksekusi masalah dengan baik. Banyak film yang menemukan suatu premis, namun eksekusi gagal karena bingung harus dikemanakan (dan terjebak pada pakem horor lain), namun The Damned membuat beberapa plot yang terkesan baru, sehingga saya, walaupun jujur bosan (hingga melewatkan adegan kucing-kucingan), tetap mau menonton hingga akhir. Saya sendiri akan mengira it will be cliche twist kayak ternyata-mati-padahal-masih-hidup atau ternyata-doski-bukan-doski, namun The Damned memberi plot yang sulit yang membuat kita jadi mikir, dia bakal gimana ya...

Hal yang cukup menarik dari skenario, sayangnya kurang dibangun dengan chemistry aktor. Oke, kalau si ayah dan si anak ini jaraknya cuma 18 tahun, tetapi hal tersebut terasa hampa. Saya justru tetap melihat mereka sebagai sekumpulan anak muda yang sial, bukan keluarga rapuh yang terkena musibah. Masalah inilah yang mungkin berakibat pada kurang dekatnya penonton dengan emosi yang harus dimainkan Facineli saat klimaks film hingga akhir.

Secara keseluruhan sendiri, teknik yang digunakan terasa wajar-wajar dalam menggarap film horor. Atau mungkin terlalu gelap? Tidak juga. Musiknya juga biasa-biasa saja. Bukankah film horor itu menjual premis ya? Eh, endak juga ding, tapi kalau semuanya biasa saja, harusnya letak film berpegang di skrip yang baik dong? Tul tak?

Akhirnya, saya harus berkata bahwa The Damned dengan plot yang sebenarnya menarik, justru jatuh dalam kubang kebosanan karena eksekusi yang biasa, dan kenyataan bahwa untuk menggali "chemistry" penonton dengan tokoh antagonis terasa lemah. Tapi tetap saja, The Damned memunculkan sebuah indikasi sekuel yang kelihatannya bisa semakin menarik.

Untuk Streaming Film Kece ini Langsung saja klik >> The Damned (2013)

Sabtu, Mei 13, 2017

Review Film - In Your Eyes (2014)

Lotus55 - Sebagai salah satu genre paling digemari penonton seluruh dunia, film romance memang selalu mempunyai pangsa pasar tersendiri. Maka, bukanlah sesuatu yang mengherankan bila para filmmaker kerap mengangkat genre ini dalam film-filmnya karena cinta memang universal; sesuatu yang kita rasakan dan butuhkan. Sayangnya, kebanyakan tema cinta yang diangkat para filmmaker (dalam hal ini cinta antar pasangan) cenderung menggunakan formula yang sama sehingga alurnya terasa membosankan. Untung saja, masih ada kreativitas di ranah film independen. Film-film independen banyak mengeksplorasi genre romance menjadi sesuatu yang mengasyikkan, salah satunya adalah In Your Eyes yang menggabungkan tema cinta dan fantasi.

Kisahnya mengetengahkan seorang wanita bernama Rebecca ‘Becky’ (Kazan) yang merasa kesepian meski bersuamikan seorang dokter sukses dengan rumah mewahnya. Di sisi lain, seorang pemuda bernama Dylan (Stahl-David) merasa hidupnya hampa karena kehidupannya yang berantakan dan tak punya arah tujuan. Kedua pria dan wanita yang tinggal berjauhan ini tiba-tiba dikejutkan oleh hubungan supernatural yang dialaminya. Becky dan Dylan dapat berkomunikasi lewat pikirannya masing-masing meski raga mereka tak bertemu di satu tempat. Perlahan namun pasti, keduanya merasakan keterikatan yang kuat hingga hidup mereka berdua mempunyai arti. Keadaan abnormal ini dirasakan oleh kerabat Becky dan Dylan yang menduga mereka berdua mengalami gangguan jiwa karena sering kedapatan berbicara sendiri. Dengan status Becky yang telah terikat hubungan pernikahan dan kondisi Dylan yang diburu oleh polisi, mampukah kedua belahan jiwa ini akhirnya bersatu?

Agen Bola


Disutradarai oleh sineas muda, Brian Hill dari naskah yang ditulis sang arsitek the Avengers, Joss Whedon, film romance ini tampil menghibur sekaligus mengharu biru lewat elemen fantasi di dalamnya. Mengangkat premis “jodoh pasti bertemu”, kekuatan terbesar dari film ini terletak dari naskah racikan Whedon. Dialog-dialognya yang romantis namun tidak picisan, pengembangan plot dan karakter yang tumbuh semakin intim harus diberi acungan jempol, meski patut disayangkan konklusi yang dihadirkan filmnya tidak spesial dan terkesan biasa saja. Dari segi akting, penampilan kedua pemain utama juga patut mendapat kredit tersendiri, khususnya Kazan yang semakin membuktikan bahwa ia adalah bintangnya film-film indie romance usai penampilan apiknya dalam Ruby Sparks (2012) dan What if (2013).

Proses syuting film ini berlangsung pada bulan Februari 2014 mengambil tempat di New Hampshire, Los Angeles, dan New Mexico. Demi mewujudkan hasil yang otentik dan sesuai dengan naskahnya, sang sutradara berupaya keras untuk mencari daerah bersalju hingga beberapa kali mengganti lokasi. Hal yang membuat film produksi Bellwether Pictures ini semakin asyik untuk dinikmati adalah pemilihan soundtrack-nya. Tembang-tembang yang dihadirkan begitu pas dan menggerakan mood dalam filmnya. Whedon juga turut menulis lagu dalam OSTnya lewat tembang bertajuk Crumblin.


Untuk Menonton Film Yang Seru ini silahkan langsung saja ke Link Berikut In Your Eyes

Rabu, Mei 10, 2017

Review film Bangkok Traffic Love Story

"Bangkok Traffic Love Story" menceritakan tentang seorang cewek jomblo yang udah cukup berumur bernama Mei Li dan tengah desperate gegara tinggal dia yang belum nikah di antara teman-temannya. Mei Li juga punya sifat agak ceroboh dan hobi banget ngerusak barang orang secara gak sengaja. Tapi, hidupnya pun berubah ketika suatu kecelakaan (insiden terpentalnya kaca spion mobil Mei Li dan menimpa mangkok makanan di kedai pinggir jalan, ketika dia nyetir sambil mabuk (inget, dia lagi desperate)) membuatnya bertemu dengan seorang cowok insinyur yang bekerja shift malam di perusahaan BTS (Bangkok Traffic System) Skytrain, bernama Loong. Tak lama sejak pertemuannya itu, Mei Li meminta saran dari anak remaja tetangganya bernama Plern. Konflik pun terjadi ketika Mei Li yang naksir berat sama Loong menemukan negative film di tas Loong dan diam-diam membawanya ke tempat cuci foto dengan tujuan untuk menyimpan foto-foto Loong. Tak terduga di sana tercetak pula foto Loong yang tengah berpose bareng mantan kekasihnya yang juga seorang artis terkenal. Gosip pun akhirnya menyebar di surat kabar, ketika orang dari studio cuci foto secara iseng menyebarkan foto tersebut. Diliputi rasa bersalah, Mei Li berusaha menghindari Loong. Tapi ... well, tentu aja gue ngga bakal nge-reveal seluruh isi cerita film ini. Jadi, silahkan cek sendiri ya!

Agen Bola


As I expected from Thailand, yang notabene (bagi gue) jagonya bikin komedi romantis, film ini pun nggak kalah menariknya dibandingkan film-film bergenre sama yang udah gue tonton. Komedinya kental tapi nggak lebay. Mungkin satu-satunya kekurangan dalam film ini adalah cast-nya yang kurang dapat menarik hati. Pemeran Mei Li, Cris Horwang, juga keliatan lebih jelek dari aslinya di sini, walau dalam beberapa scene (waktu di bandara) gue bisa ngeliat cantiknya Cris saat berdandan casual. Oh, ya, khusus adegan awal di DVD rental, ada Plern yang diperankan Ungsumalynn Sirapatsakmetha. Khusus yang satu ini, berhubung umurnya juga masih muda banget, senyumnya juga bikin melting. Tuh orangnya ada di poster. Sayangnya dia cuma kebagian sedikit peran. (kemudian gue kecewa dan melampiaskan kekecewaan dengan mengambil makanan tambahan).


Lewat film ini, penonton juga disuguhkan pengetahuan baru seputar Bangkok, khususnya sistem lalu lintas skytrain yang mereka banggakan. Selain itu juga, ada adegan di dalam Planetarium yang berhasil bikin gue penasaran setengah mati pengen main ke sana. Ditambah rumah Loong yang pintu belakangnya langsung disambut danau tempat kapal ferry berlalu-lalang satu kilometer di depannya. Pemandangan yang indah, terlebih sebagian besar adegan diambil waktu malam hari, ngasih kesan dan pengalaman tersendiri.

Secara garis besar cerita, sebenernya cukup mainstream kok, hanya saja sutradara mampu membawakan kisah ini dengan lebih fresh, sehingga gue bisa nonton ini dari awal sampe akhir tanpa ngeluh. Seperti biasa, porsi komedi dan seriusnya terpadu dengan pas, walaupun adegan yang seharusnya sedih agak kurang tersampaikan dengan baik feel-nya. But, hei, ada adegan sedih bukan berarti tragedi kok. Gue kasih tau aja, film ini happy ending dengan konklusi menggantung mirip "Teacher's Diary (2014)"

Ada beberapa kritik diterima sama Cris dalam memerankan tokoh Mei Li di sini, mungkin setelah kalin liat sendiri, nanti bisa tau kenapa dia dikritik. But, that's not a big deal kok. Toh, film yang dirilis tahun 2009 ini juga ternyata berhasil menyabet cukup banyak penghargaan di ajang movie award di Thailand

Untuk menonton Film yang seru ini langsung saja klik di Link berikut Bangkok Traffic Love Story